18/01/14

Janji Untuk Gwen


            “Duarr..!!” Sebuah benturan keras mengenai bagian belakang mobil yang ku kendarai bersama seorang wanita yang telah ku nikahi selama hampir empat tahun itu. Rasanya baru saja beberapa menit yang lalu kami tertawa bersama di kafe sederhana yang biasa kami kunjungi. Kini aku justru terbangun dan melihat ruangan serba putih dengan segala pernak-pernik medis yang terpasang di tubuhku. Tanpa kusadari aku hanyut dalam kenangan 4 tahun yang lalu, saat-saat dimana aku menatap mata bulat berwarna hitam itu. Aku berlari mengejar wanita itu untuk mengembalikan sesuatu yang terjatuh dari tas coklatnya. Obrolan menarik antara kami pun berlangsung, setelah cukup lama berbasa-basi aku langsung mengajaknya makan siang sebagai tanda perkenalan, tanpa pikir panjang, wanita yang biasa dipanggil Gwen itu menerima tawaranku dengan senang hati.  Aku langsung mengajaknya ke sebuah kafe yang kini menjadi kafe favorit kami berdua. Hari yang indah, aku menikmatinya. Setelah menjalin hubungan selama kurang lebih 1 tahun, kami memutuskan untuk menikah. Sebuah upacara pernikahan yang berlangsung sangat jauh dari kemewahan, upacara pernikahan kami tidak dilaksanakan di gereja layaknya sepasang pengantin pada umumnya, tak ada musik yang mengiringi mempelai wanita, tak ada karangan bunga di setiap sudut ruangan, tidak ada tirai-tirai megah, hanya ada berbagai pajangan karya seni. Kami melangsungkan pernikahan di institut seni dimana Gwen merupakan salah satu siswanya, tamu yang hadir hanya 6 orang sahabat dekat kami. Pengucapan janji suci yang sederhana namun penuh cinta. Aku bersumpah untuk tidak akan pernah lupa bahwa ini adalah cinta sekali dalam seumur hidup. Tak peduli rintangan yang mungkin memisahkan kami, aku akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
***
            Setelah keadaanku membaik, aku diperbolehkan pulang meskipun tanganku yang cedera masih terasa sedikit sakit. Berhari-hari aku menemani istriku yang belum juga sadar sampai akhirnya hari itu tiba.
            “Senang bertemu denganmu.” Sapaku dengan wajah sumbringah. Gwen terlihat bingung.
            “Tidak apa, Gwen. Kau sedang berada di rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan mobil.” Ujar seorang dokter yang merawat Gwen. Dokter itu lalu meninggalkan kami berdua.
            “Bagaimana perasaanmu, Gwen?” tanyaku. Dengan mata yang masih sulit untuk terbuka Gwen menjawab pertanyaanku.
            “Kepalaku sakit. Apa ada orang lain yang terluka, Dokter?”
Setelah mendengar kata itu kini justru aku yang kebingungan. Aku memastikan apakah Gwen benar-benar mengenalku.
            “Gwen, kamu tau kan siapa aku?”
            “Ya, kau dokter yang merawatku.”
Seketika nafasku tertahan. Bagaimana mungkin seorang istri tidak mengenali suaminya sendiri. Aku meyakinkan Gwen bahwa aku adalah suaminya. Gwen terlihat kaget, bukti cincin yang melingkar dijarinya tidak cukup untuk membuatnya percaya. Ia seakan takut dan terus menghindariku. Kala itu aku sangat marah, dokter bilang ia akan baik-baik saja, tapi nyatanya ia bahkan tak ingat siapa aku.
Esok harinya aku kembali ke rumah sakit dan membawa sejumlah pakaian ganti, petugas rumah sakit mengatakan bahwa Gwen telah dipindahkan ke ruang VIP. Aku segera berlari menuju ruangan itu dan mendapati seorang laki-laki dan perempuan sedang bersama Gwen. Aku tahu persis itu adalah kedua orangtua Gwen meskipun kami belum pernah bertemu sebelumnya karena beberapa alasan.
Hal itu jelas membuat Gwen bingung. Aku merasa menjadi orang asing disini. Dokter menyarankan agar Gwen kembali ke rumah untuk memulihkan keadaannya. Kedua orangtua Gwen bersih keras membawa Gwen pulang ke rumah mereka. Aku membantah keinginan mereka, aku yakin ingatan Gwen bisa pulih dengan kembali ke rumah bersamaku, rumah kami. Setelah menunjukkan pesan suara yang ia kirimkan untukku beberapa hari yang lalu sebelum kecelakaan, aku berhasil membujuk Gwen untuk pulang bersamaku.
Di rumah kami merasa seperti dua orang asing yang dipaksa tinggal di tempat yang sama.  Mau berbicara saja canggung. Beberapa hari setelah itu terdengar kabar bahwa Samanta, adik perempuan Gwen akan segera menikah, Gwen lalu dijemput ayahnya untuk kembali ke rumahnya dan membantu persiapan pernikahan.
Hari pernikahan Samanta tiba, aku memberanikan diri untuk datang meskipun tidak ada satu pun tamu yang mengenaliku. Samanta adalah satu-satunya orang yang kelihatannya menyukaiku dan mau menerimaku.
Aku duduk sendiri di sofa panjang di tengah ruang yang ramai dengan tamu penting. Seorang laki-laki menghampiriku. Ia membuatku geram dengan mengatakan aku adalah orang asing di rumah mertuaku sendiri, ia juga mengatakan bahwa istriku mendatanginya dan membicarakan tentang kenangan indahnya bersama Gwen. Ya, dia adalah Jeremy, mantan kekasih Gwen. Setelah mendengar perkataan Jeremy, sebuah pukulan keras melayang ke pipinya. Aku menjadi perhatian seisi ruangan tersebut.
Setelah kejadian itu aku bertengkar hebat dengan Gwen. Entahlah, aku sudah sangat lelah selama ini meyakinkan Gwen, melakukan segala hal yang aku pikir bisa memulihkan ingatannya. Kesabaranku mungkin telah mencapai batasnya. Gwen pun demikian, ia yang juga berusaha mengembalikan ingatannya tentangku kini sudah merasa lelah karena tidak sedikitpun ia mengingat apa yang pernah dilakukannya dulu denganku.
Aku kembali ke rumah. Aku memutuskan untuk membereskan semua barang-barang yang dulu digunakan Gwen. Ruangan yang biasa digunakannya untuk menciptakan karya seni kini menjadi ruang hampa. Rumah yang dulu dihuni oleh dua orang yang saling mencintai, kini hanya tersisa seorang laki-laki yang putus asa bersama seekor kucing gemuk karena tiap hari berbagi makanan dengan si pemilik rumah.
Seminggu kemudian aku mendapati Gwen sedang duduk termenung tepat di depan pintu rumahku, sepertinya sesuatu telah terjadi. Benar saja, Gwen yang melihatku langsung membahas mengenai masalah orangtuanya. Gwen ternyata telah mengetahui bahwa dulu ia pergi dari rumah karena ayahnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ia bahkan meninggalkan sekolah hukum dan memasuki institut seni. Karena itulah akhirnya ia bisa bertemu denganku. Aku beberapa kali hampir memberitahunya, namun aku merasa menjadi suami yang berdosa jika aku harus memisahkan Gwen dengan orangtuanya
Setelah mengetahui kebenarannya Gwen memutuskan untuk meninggalkan keluarganya lagi dan kembali hidup bersamaku. Bukan berarti Gwen telah mengingat semuanya, Gwen belum mengingat apapun tentangku. Tapi paling tidak kini ia kembali mempercayaiku sebagai suaminya.
Kami mengulang semuanya dari awal lagi meskipun Gwen tidak mendapatkan ingatannya kembali. Aku merasa seperti sepasang pengantin baru. Kini kami membangun sebuah keluarga bahagia dengan dua orang putri yang cantik.
Inilah wujud dari janji yang aku ucapkan dihari bahagiaku dengan Gwen. Setelah melewati rintangan yang cukup berat, akhirnya kami menemukan jalan untuk kembali bersama.


31/07/13

Apa maksudnya?

Entah mana yang lebih menyakitkan, menunggumu tanpa kepastian atau mempersatukanmu dengannya.
Dia, orang yang kamu beri harapan yang sama sepertiku namun memiliki keberanian  lebih dibandingkan aku, nasibnya sedikit lebih beruntung.  Mungkin dia lebih penyabar dibandingkan aku? Aku rasa tidak. Dia wanita kuat. Dia bersedia menutup hatinya untuk orang lain hanya demi menunggu kamu yang tak pasti kapan datangnya. Matanya seakan tertutup untuk laki-laki sempurna sekalipun. Yang ia tau hanya kamu. Tak peduli sekecil apapun kesempatannya, tapi ia tetap menunggumu. Tidak sepertiku, aku memang menunggumu kembali, tapi hidupku tak benar-benar kosong. Ada orang lain yang mengisi hariku, seseorang yang tetap sabar menghadapiku, seseorang yang rela aku sakiti, tapi aku memilih untuk melepasnya. Aku memang salah, mungkin seseorang itu hanya pelarian, aku tak tau.
Kamu, kapan kamu akan kembali? Mengapa kesempatan untukku semakin sempit?
Kamu datang lagi ke kehidupanku, kamu datang lagi membawa semua harapan itu. Tapi semuanya samar-samar, bahkan hampir tak tampak. Kamu tau seberapa tersiksanya aku? Terlebih lagi dengan datangnya ‘mereka’. Wanita-wanita yang juga mengharapkan kedatanganmu. Entahlah, sebutan apa yang pantas untukmu, pemberi harapan palsu mungkin?

***

Aku seakan mencabik-cabik hatiku sendiri. Ya, wanita itu. Sosok yang tak berapa lama ini aku kenal.  Wanita yang aku pikir akrab denganmu, dia wanita yang beruntung, lebih beruntung dari aku.
Seringkali dia bercerita tentangmu, baik dan burukmu, semuanya. Hal yang sebenarnya sudah aku ketahui bahkan melekat diingatanku. Dia bercerita seakan dialah orang yang paling tau tentangmu, dialah wanita yang selalu kamu beri pujian. Dengan senyumku yang terkesan memaksa, tidak jarang aku menanggapi setiap omongannya. Dari situlah aku mulai berniat untuk menyatukan kamu dengannya, sakit memang, tapi sudahlah ini jalan yang kupilih. Disaat aku sangat-sangat membutuhkanmu, aku justru semakin menyemangatinya untuk tetap berjuang mendapatkanmu. Entah mana yang lebih menyakitkan menunggumu tanpa kepastian atau mempersatukanmu dengannya.
Sesakit inikah mengenal dan mencintaimu? Setiap hari aku harus berhadapan dengannya, mendengar semua keluh kesahnya tentangmu. Orang-orang bilang aku terlalu baik, terlalu kuat, apalah itu. Aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya aku lakukan. Aku seperti membuka jalan yang lebar untuk pesaingku.
Hari itu kamu datang setelah aku bercerita kepada seseorang yang telah ku anggap sebagai kakak. Aku tau dia menyampaikan apa yang ku ceritakan tentangmu. Ya, lagi-lagi kamu datang. Dan saat itu aku merasa seperti bukan aku yang sedang menunggu kepastian, tapi justru sebaliknya, kamu yang menunggu kepastian dariku.
Aku melepasmu, aku merelakanmu seolah aku telah putus asa walaupun sebenarnya tidak. Aku bilang aku akan melupakanmu, tidak akan mengingatmu lagi, barang-barangmu yang masih “tertinggal” di aku sempat ingin ku kembalikan. Tapi aku tidak mengerti, kamu seperti menahanku dan memintaku untuk tidak menjauh. Apa maksudnya?
Tapi aku tetap memilih jalanku. Kenyataannya selama ini juga kita hampir tidak pernah berkomunikasi. Jadi apa gunanya kamu menahanku dengan alasan tidak ingin kehilangan seorang teman?
Tak berapa lama setelah itu, aku mendengar kabar itu. Kabar yang selama ini aku tunggu atau mungkin aku takutkan, entahlah. Kamu akhirnya jadi miliknya, milik wanita itu, teman akrabku..
Aku tidak tau apa yang seharusnya aku rasakan, ini yang aku inginkan, mempersatukan kamu dengan dia. Aku senang karena akhirnya kalian bersatu. Tapi tetap saja ada sesuatu disini ; hatiku.

Kamu terlihat sangat menyayanginya, apapun yang dia lakukan kamu ingin selalu menjaganya. Sekali lagi, dia telah selangkah lebih beruntung dari aku.

26/07/13

Lihat wajah kamu hari ini itu rasanya luar biasa.
Mungkin sepele, tidak istimewa. 
Tapi apakah ada yang tau sebagaimana aku merindukan wajah itu?
Apa ada yang tau aku menantikan saat-saat itu?
Aku masih disini. Aku tidak ingin kemana-mana. aku tidak ingin jauh.
Kamu 

25/07/13

You're the reason why I stay
You're the one who cannot believe
Our Love will never end

Is it only in my dreams?
You're the one who cannot see this
How could you be so blind?

To be with you is all that i need
Cause with you, my life seems brighter 
and these are all the things i wanna say

I will fly into your arms
and be with you till the end of time
Why are you so far away?
You know it's very hard to me
to get myself close to you~

[Ten2Five - i will fly]

Catatan Malam duapuluhlimajuli

Hey, Mas  J
Malam ini, apa kamu tau sebagaimana susahnya aku memejamkan mata? Kembali aku diingatkan dengan sosok bayangmu.
Aku menangis, aku menangis mengingatmu. Aku merasakan satu hal yang menyakitkan dihatiku, satu hal yang masih ganjal. Susah untuk lepas dari semua ingatan tentangmu.
Ku buka satu persatu foto tentangmu, aku bertanya-tanya. Mengapa aku tidak seberuntung mereka? Mengapa aku hanya bisa memilikimu sesaat? Dan itupun tanpa pernah menatapmu lama, tanpa pernah memandang wajahmu dengan penuh arti. Hanya untuk berfoto bersamamu saja aku tidak bisa.
Apa tujuan ini semua? Aku tidak mengerti. Untuk apa kamu datang kalau Cuma untuk sesaat?
Kapan kamu kembali?

Beberapa hari ini aku tidak melihatmu lagi. Mungkin biasanya aku menghindar untuk menatapmu jika tak sengaja bertemu. Tapi sekarang aku mencarimu. Hanya untuk melihat wajahmu di pagi cerahku..

20/07/13

Aku masih merindukanmu .

Entah mengapa aku masih merindukanmu. Aku tak ingat jelas kapan kamu memilih untuk memutuskan hubungan antara aku dan kamu, hubungan kita. Karena aku memang tak ingin mengingatnya bahkan tak pernah ingin hal itu terjadi.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan segalanya. Singkat memang. Kita tidak pernah melakukan hal yang biasa disebut "nge-date" atau sejenisnya. Aku hanya ingat kita berpapasan muka dan mengucapkan beberapa kata di warung nasi goreng favoritku. Hanya itu.
Komunikasi yang paling sering kita lakukan hanya saling berbalas pesan singkat, itupun biasa-biasa saja. Flat. Tapi semuanya mempunyai makna. Mempunyai cerita dan ruang tersendiri disini *hatiku, dan itulah yang sampai saat ini tak bisa hilang dari ingatanku.
Perasaanku justru semakin kuat tiap harinya. Ditambah lagi aku bersekolah di tempat yang sama denganmu. Dimana tiap harinya aku selalu tanpa sengaja melihatmu. Entah apa yang membuat penglihatanku terhenti tepat saat melihatmu. Bahkan tak jarang kita tak sengaja saling menatap.

Kamu tau? Tiap kali aku melihatmu aku semakin ingat semuanya, candamu, suaramu, segala yang aku tau tentangmu. Bahkan hanya dengan melihat teman-temanmu saja itu sudah cukup membuatku teringat. Aku merindukanmu..

Apa kamu merasakan hal yang sama? Aku tidak yakin.
Aku tidak berani menerka-nerka apa sebenarnya isi hatimu.

Sayangnya aku tidak bisa melihatmu selama yang aku mau.
Kamu murid kelas XII sedangkan aku murid kelas X. Waktu yang singkat untuk kita ='D

Aku ingat kata-kata itu, kata-katamu yang sempat membuatku tertawa,
"ciee bentar lagi kuliah, mau kuliah dimana? Disini aja yah, gausa jauh-jauh."
"Hahaha.. kalo kuliah disini ntar kamu aku kasi makan apa?" 
Kamu menggodaku waktu itu..
Hahaha tapi sudahlah, kenyataannya yang terjadi hubungan kita hanya berjalan sekitar 3 minggu. 
Kamu tidak perlu lagi memikirkan apa yang bisa kamu berikan untukku nantinya. Karena nyatanya aku bukan milikmu lagi. 


Tidak,, kamu yang bukan milikku, karena aku masih berdiri disini untuk jadi milikmu. 

Entahlah, apa memang kita bukan pasangan yang cocok? Aku tidak pernah tau.

***

Aku merindukanmu, hari ini, hari berikutnya dan hari berikutnya lagi sampai seterusnya sampai engkau kembali atau mungkin sampai aku berhasil melupakanmu sebagai laki-laki yang aku cintai..

27/05/13

Daisy

Cintaku hanya sebuah mimpi
Semua itu begitu dekat denganku
Tapi semua itu ku lakukan

Hanya melihatmu tanpa berbicara
Di kota orang asing ini
Aku hidup hari demi hari melukis cinta
Menunggu dan berharap kau akan berada disini
Dengan aroma bunga daisy

Tapi terlambat sekarang
Aku akhirnya mengenalimu
Tapi mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersatu

Aku tak pernah ingin membiarkan cinta ini terbang jauh
Tapi aku minta maaf
Aku harus pergi
Denganmu masih bernapas disini ..