08/09/12

Malangnya Nasib si Bapak Tua



Seorang bapak tua menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga, mencari nafkah demi menghidupi anak dan istrinya . Setiap pagi ia dengan sigap menyiapkan barang dagangannya untuk segera dibawa ke tempat pangkalan dimana ia biasa berjualan. Peluh selalu membasahi tubuhnya, namun hasil yang ia dapat belum tentu sebanding dengan kerja kerasnya itu.
Tak peduli pandangan buruk orang-orang di jalanan, tak peduli cemoohan mereka, yang ia tahu hanya kewajibannya mencari nafkah. setidaknya penghasilan yang didapat bisa memberikan sesuap nasi untuk anak dan istrinya.
Menjual mainan, ya itulah keseharian si bapak tua. Ia berjualan di tepi jalan, dekat dengan pusat perbelanjaan, dilewati orang yang berlalu lalang. Barang-barang yang dijual merupakan mainan anak-anak yang mulai berkurang peminatnya. Seiring berkembangnya zaman dengan teknologi yang luar biasa, anak-anak lebih meminati mainan-mainan canggih, bukan mainan kecil yang biasa dijual si bapak tua.
Sungguh kerasnya hidup, ia selalu berharap ada keajaiban menimpa dirinya. Satu saja barang dagangannya laku terjual, baginya benar-benar membahagiakan. Sekecil apapun harga yang didapat, ia sangat-sangat bersyukur. Karena ia sadar, Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi seseorang yang selalu mengingat-Nya, selalu mengasihi-Nya, giat berusaha, serta senantiasa bersyukur.
Di dunia ini, apa saja bisa dilakukan manusia demi meraih keuntungan. Baik itu lazim maupun tidak. Tak jarang, ada orang yang memfitnah bahkan menjaili si bapak tua. Mereka yang tidak punya hati, tidak pernah sedikitpun merasa kasihan atau prihatin terhadap bapak tua. Jika ada kesempatan, mereka bahkan tega mencuri keuntungan dari si bapak tua. Seperti yang terjadi disuatu siang, semua orang baru saja terbebas dari kesibukannya. Karena itu, jalanan begitu ramai dipadati kendaraan yang lalu lalang. Selain itu juga banyak orang yang singgah ditepi jalan untuk sejenak beristirahat ataupun membeli jajanan. Di sebrang jalan dari tempat si bapak tua berdagang, terlihat sekumpulan anak-anak "punk" (bisa dibilang preman) yang sedang berkumpul di sebuah distro kecil. Mereka sedang asyik berfoto dan mengobrol. Tiba-tiba seorang dari mereka memunguti benda yang berceceran di jalan. benda itu tidak hanya 1, tapi berlembar-lembar.
Tiba-tiba datang seorang bapak yang hampir sebaya dengan bapak tua dengan sepeda kuningnya, ia berhenti tepat di depan barang dagangan si bapak tua. Karena ia tidak bisa berbicara, dengan susah payah dia memberi tahu si bapak tua yang sedang asyik mengobrol dengan kawannya. Tanpa disadari bapak tua, ternyata benda yang dipunguti oleh premman tadi ialah sejumlah uang asing yang dikoleksinya entah sejak kapan. Beberapa orang di jalan menyadari itu dan segera membantu bapak tua memunguti uang yang beterbangan dibawa angin. Saat uang-uang itu dikembalikan ke tempat ia biasa menyimpannya, terlihat raut kekecewaan di wajahnya. Mungkin ia merasa kehilangan, mungkin saja benda itu benar-benar berharga baginya. Dengan berat hati, bapak tua mengikhlaskan uangnya hilang, berapapun yang berhasil dikumpul ia tak peduli, meskipun masi kekecewaan dan kehilangan masi ia rasakan. Semua orang yang menemukan uang itu, langsung mengembalikan ke bapak tua kecuali preman penjaga distro. Ya, anak punk tadi berhasil mengumpulkan uang-uang itu dalam jumlah yang cukup banyak. Bukannya mengembalikan kepada pemiliknya, ia justru membagikan uang itu pada teman-temannya. Sungguh tidak punya hati.
Beberapa anak yang singgah untuk membeli minuman di pinggir jalan menyadari hal itu, ingin rasanya mereka mengambil uang yang diambil preman-preman yang tak tau malu . Tapi apa daya, mereka semua perempuan,  walaupun mereka sangat ingin, tapi rasa takut menghampiri mereka. preman-preman itu sangat menakutkan. Ingin rasanya anak-anak ini menangis, mereka iba dengan bapak tua itu.
Tapi, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya bisa berdo'a semoga bapak tua mendapat keberkahan dan para preman mendapat balasan atas perbuatannya ...

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar