27/04/13

DIA part 2 (Dia Tergolek Lemah)


Aku kembali menuliskan kisah tentangnya, tentang dia yang hadir lagi di kehidupanku.
Sejak hari itu, hari dimana dia datang memberikanku rasa bahagia dihari istimewaku, ingatanku tak pernah lepas darinya. Bahkan aku mengabaikan sosok laki-laki yang sedang berstatus menjadi kekasihku.
Aku mendengar kabar bahwa dia sedang dirawat di rumah sakit. 
Mendengar berita itu hatiku terasa remuk, aku ingin berteriak, ingin menangis sekencang-kencangnya, ingin berlari, ingin segera melihatnya. Sejak aku mendengar berita itu, mulai hari itu, pikiranku kacau, hari-hariku terisi oleh pikiran-pikiran yang tak jelas, pikiran yang seolah mencekikku, aku ingin segera bertemu dengannya.
--
Tuhan mendengar do’aku, aku diantarkan untuk bertemu dengannya, melihatnya, merawatnya, ya itu yang ku mau.
Kulangkahkan kakiku perlahan menuju ruangan itu, ruangan tempat ia dirawat. Beberapa langkah, akhirnya aku sampai di tempat itu. Perasaanku tak menentu, menduga-duga apa yang akan kulihat di dalam sana, apakah seseorang yang sedang tergolek lemah tak berdaya, apakah seseorang yang membutuhkan kasih sayang, atau tatapan sinis yang tak pernah mengharapkan kehadiranku.
Ku buka pintu perlahan, dan aku melihatnya. Benar saja, aku melihat wajah itu, wajah yang selama ini ku rindukan, wajah yang entah berapa lama tak pernah kulihat secara jelas. Kini aku melihatnya tanpa perantara sedikitpun.
Perasaanku bercampur..
Aku senang, tapi hatiku perih. Dia sangat lemah, terbaring dengan wajah pucat, kulihat selang infus terpasang ditangan kirinya. Tak sanggup aku melihat keadaannya.
Entah apa yang ada di otakku malam itu, tanpa sadar aku membawa diriku untuk mendekatinya, dengan berani aku duduk disampingnya, menanyakan keadaannya, bahkan berusaha memberikannya obat.
“dia tidak mau minum obat dari kemarin, susah sekali.”
Begitu kata mereka yang ada di ruangan itu. Mungkin Tuhan mengizinkanku untuk meringankan bebannya. Tuhan memberiku jalan melalui kejadian malam itu.
Akhirnya aku berhasil membujuknya untuk meminum obat. Malam itu aku berhasil membuatnya tidur nyenyak. Tidak ada pikiran yang terlintas di benakku. Hanya perasaan lega melihat dia sedikit lebih baik. Karenaku? Mungkin saja..
Jam besuk berakhir. Aku pamit pulang.
“permisi, kami pamit pulang. Sudah malam.” Pamitku bersama seseorang yang berbaik hati menemaniku.
“Oh iya. Besok datang lagi ya. Dia tidak mau minum obat kalau bukan kamu yang memberinya. Datanglah sebentar untuk memeriksa apakah dia sudah makan dan minum obat.”
Begitu pesan seseorang di ruangan itu.. Pesan yang menurutku harus aku penuhi.
Aku mengiyakan permintaan itu. Keesokan harinya aku datang lagi, esoknya lagi, dan seterusnya. Aku datang untuk melihat keadaannya. Setiap aku datang, selalu aku yang memberinya obat. Aku senang bisa menjadi salah satu orang yang penting disuasana seperti ini.
Suasana itu pun menjadi sarana bagiku untuk menjalin keakraban dengan keluarganya. Betapa bahagianya aku.
Sungguh, aku berharap tak ada lagi yang merusak hubungan ini. Jangan lagi ada hari buruk setelah ini.
Cepatlah sembuh,, jalani kehidupan seperti biasanya.
Aku menyayangimu, selalu :”

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar