27/05/13

Daisy

Cintaku hanya sebuah mimpi
Semua itu begitu dekat denganku
Tapi semua itu ku lakukan

Hanya melihatmu tanpa berbicara
Di kota orang asing ini
Aku hidup hari demi hari melukis cinta
Menunggu dan berharap kau akan berada disini
Dengan aroma bunga daisy

Tapi terlambat sekarang
Aku akhirnya mengenalimu
Tapi mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersatu

Aku tak pernah ingin membiarkan cinta ini terbang jauh
Tapi aku minta maaf
Aku harus pergi
Denganmu masih bernapas disini ..

08/05/13

Kalian Takkan Mengerti.



     Suatu malam yang dihiasi oleh rintik hujan. Membawa hawa dingin yang merasuki tubuh. Kadang datang perlahan, namun tiba-tiba menyerang dengan derasnya.
          Aku terhenti oleh pikiranku sendiri. Entah, ini perasaan sesal, sedih, bimbang, takut, atau apa aku pun tak mengerti. Malam ini secara tiba-tiba mengembalikan semuanya. Seakan-akan aku kembali ke masa-masa dulu yang pernah ku lewati. Semuanya terlintas dengan jelasnya dipikiranku. Perasaan ini sangat menyiksaku.
          Kerasnya suara genting yang terbentuk oleh derasnya hujan semakin menusuk-nusuk jiwaku. Aku bertanya-tanya, apa yang membuat semuanya kembali teringat?
          Ini perasaan sesal, juga takut. Mengapa semuanya pergi begitu saja setelah mereka telah merusakkan sesuatu, tanpa bisa mengembalikannya seperti semula. Apakah mereka memang ditakdirkan hanya untuk mencoba-coba? Apakah mereka mendekati hanya untuk memiliki? Tanpa ingin tahu lebih dalam, tanpa ingin mengerti, tanpa ingin masuk lebih dalam. Namun setelah mereka mendapatkannya, setelah mereka puas, mereka akan melepaskan begitu saja. Memang, mereka masih menyapa, mereka masih tetap ada. Tapi mereka melupakan segalanya dengan begitu mudah.
          Aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Mengapa aku membiarkan perasaan itu meracuni pikiranku. Mengapa aku membiarkan ego mengalahkan diriku sendiri. Mengapa aku terpancing oleh kepuasanku. Mengapa aku tak dapat menahan diriku. Semua itu akhirnya membuat aku tersiksa. Ya, karena ulahku sendiri. Penyesalan dan semua ingatan-ingatan itu memang tidak selalu hadir. Namun sekali saja mereka datang, rasanya sangat-sangat menyakitkan, sangat menyiksa, menenggelamkan segalanya, menjerumuskan ke pikiran-pikiran yang pedih.
          Kadang, mereka akan kembali. Dengan alasan menyesali segala hal yang telah mereka lakukan sehingga menyakiti. Mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kembali apa yang dia inginkan. Tanpa berpikir, apakah yang mereka inginkan itu bisa mereka dapatkan begitu saja. Tanpa ingin tahu, rasa sakit itu masih membekas atau tidak. Tanpa tahu, kalau goresan yang mereka buat telah melekat secara permanen. Tanpa tahu, apa yang telah mereka perbuat telah menimbulkan rasa sakit, rasa takut yang luar biasa menyiksa. Yang mereka inginkan hanya mendapatkannya kembali dengan mudah.
          Terkadang mereka rela mempermalukan diri sendiri, karena mereka akan melakukan apa saja yang mungkin dapat meluluhkan dan memberikan kembali.
          Semua tergantung pada masing-masing diri, jika aku terjebak lagi, jika aku berhasil luluh, maka mereka akan bersorak gembira. Mereka merasa puas karena telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, kepuasan itu membuat mereka lupa akan perkataan yang pernah terucap, janji-janji palsu yang telah mereka ikrarkan. Untuk tidak mengulangi kesalahan dimasa lampau. Apa yang terjadi? Lambat laun itu semua terjadi kembali. Rasa sakit itu datang lagi, mungkin sama atau bisa jadi lebih sakit… dan akhirnya akan dilepaskan kembali..
          Lain halnya jika mungkin diri bisa menahan, bisa membayangkan apa yang mungkin akan terjadi. Sekeras apapun usaha mereka, bagaimanapun mereka merendahkan diri. Semua itu takkan mampu membuat semuanya kembali. Mengobati luka yang telah tertimbun, tertancap dalam. Mereka mungkin akan berusaha lebih keras, memohon, membujuk, bahkan menjebak. Sejenak diri sedikit terkoyah, namun ketika rasa sakit yang pernah dialami terbersit dalam ingatan, hati akan berpijak lebih kuat lagi. Ada rasa ingin mencoba kembali, namun rasa itu segera terkubur oleh harapan agar merasakan kebebasan yang lain. Terkadang mereka membingungkan, mereka menjadi hitam putih yang semula menyerah namun datang meyakinkan kembali. Jika mereka tidak mendapat respon yang lebih, mereka justru menjebak, mencampakkan, melempari kesalahan, bahkan memutarbalikkan fakta. Dan itu membuat diri merasa tertekan.
          Begitu membingungkan….
Menentukan keputusan yang benar-benar tepat, itulah yang menjadi tantangan. Apakah ingin mencoba hal yang baru, atau kembali lagi dengan kemungkinan akan memulai kisah baru atau terjerumus dalam lubang yang sama ….