31/07/13

Apa maksudnya?

Entah mana yang lebih menyakitkan, menunggumu tanpa kepastian atau mempersatukanmu dengannya.
Dia, orang yang kamu beri harapan yang sama sepertiku namun memiliki keberanian  lebih dibandingkan aku, nasibnya sedikit lebih beruntung.  Mungkin dia lebih penyabar dibandingkan aku? Aku rasa tidak. Dia wanita kuat. Dia bersedia menutup hatinya untuk orang lain hanya demi menunggu kamu yang tak pasti kapan datangnya. Matanya seakan tertutup untuk laki-laki sempurna sekalipun. Yang ia tau hanya kamu. Tak peduli sekecil apapun kesempatannya, tapi ia tetap menunggumu. Tidak sepertiku, aku memang menunggumu kembali, tapi hidupku tak benar-benar kosong. Ada orang lain yang mengisi hariku, seseorang yang tetap sabar menghadapiku, seseorang yang rela aku sakiti, tapi aku memilih untuk melepasnya. Aku memang salah, mungkin seseorang itu hanya pelarian, aku tak tau.
Kamu, kapan kamu akan kembali? Mengapa kesempatan untukku semakin sempit?
Kamu datang lagi ke kehidupanku, kamu datang lagi membawa semua harapan itu. Tapi semuanya samar-samar, bahkan hampir tak tampak. Kamu tau seberapa tersiksanya aku? Terlebih lagi dengan datangnya ‘mereka’. Wanita-wanita yang juga mengharapkan kedatanganmu. Entahlah, sebutan apa yang pantas untukmu, pemberi harapan palsu mungkin?

***

Aku seakan mencabik-cabik hatiku sendiri. Ya, wanita itu. Sosok yang tak berapa lama ini aku kenal.  Wanita yang aku pikir akrab denganmu, dia wanita yang beruntung, lebih beruntung dari aku.
Seringkali dia bercerita tentangmu, baik dan burukmu, semuanya. Hal yang sebenarnya sudah aku ketahui bahkan melekat diingatanku. Dia bercerita seakan dialah orang yang paling tau tentangmu, dialah wanita yang selalu kamu beri pujian. Dengan senyumku yang terkesan memaksa, tidak jarang aku menanggapi setiap omongannya. Dari situlah aku mulai berniat untuk menyatukan kamu dengannya, sakit memang, tapi sudahlah ini jalan yang kupilih. Disaat aku sangat-sangat membutuhkanmu, aku justru semakin menyemangatinya untuk tetap berjuang mendapatkanmu. Entah mana yang lebih menyakitkan menunggumu tanpa kepastian atau mempersatukanmu dengannya.
Sesakit inikah mengenal dan mencintaimu? Setiap hari aku harus berhadapan dengannya, mendengar semua keluh kesahnya tentangmu. Orang-orang bilang aku terlalu baik, terlalu kuat, apalah itu. Aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya aku lakukan. Aku seperti membuka jalan yang lebar untuk pesaingku.
Hari itu kamu datang setelah aku bercerita kepada seseorang yang telah ku anggap sebagai kakak. Aku tau dia menyampaikan apa yang ku ceritakan tentangmu. Ya, lagi-lagi kamu datang. Dan saat itu aku merasa seperti bukan aku yang sedang menunggu kepastian, tapi justru sebaliknya, kamu yang menunggu kepastian dariku.
Aku melepasmu, aku merelakanmu seolah aku telah putus asa walaupun sebenarnya tidak. Aku bilang aku akan melupakanmu, tidak akan mengingatmu lagi, barang-barangmu yang masih “tertinggal” di aku sempat ingin ku kembalikan. Tapi aku tidak mengerti, kamu seperti menahanku dan memintaku untuk tidak menjauh. Apa maksudnya?
Tapi aku tetap memilih jalanku. Kenyataannya selama ini juga kita hampir tidak pernah berkomunikasi. Jadi apa gunanya kamu menahanku dengan alasan tidak ingin kehilangan seorang teman?
Tak berapa lama setelah itu, aku mendengar kabar itu. Kabar yang selama ini aku tunggu atau mungkin aku takutkan, entahlah. Kamu akhirnya jadi miliknya, milik wanita itu, teman akrabku..
Aku tidak tau apa yang seharusnya aku rasakan, ini yang aku inginkan, mempersatukan kamu dengan dia. Aku senang karena akhirnya kalian bersatu. Tapi tetap saja ada sesuatu disini ; hatiku.

Kamu terlihat sangat menyayanginya, apapun yang dia lakukan kamu ingin selalu menjaganya. Sekali lagi, dia telah selangkah lebih beruntung dari aku.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar